ISU –
ISU DAN INFO TERKINI TENTANG PENGELOLAAN ICT LAB
PEMBAHASAN
Membicarakan
tentang pemamfaatan (TIK) oleh para guru dan siswa tidak lepas dari unsur berikut
, yaitu;
1) segala sarana dan prasarana, serta segala perangkat yang ada;
2) tingkat keterampilan tenaga pendidik dalam pengaplikasian TIK;
3) kebijakan pemimpin saat mendukung pengaplikasianTIK;
4) pendidikan serta pelatihan bagi para tenaga pendidikan;
5) hambatan-hambatan para tenaga pendidik dalam pengaplikasian TIK.
seluruh unsur yang terkait ini dijelaskan per pokok pembahasan dengan tujuan agar diperoleh kejelasan, dan pada akhirnya diharapkan agar dapat menguasai nya .
1) segala sarana dan prasarana, serta segala perangkat yang ada;
2) tingkat keterampilan tenaga pendidik dalam pengaplikasian TIK;
3) kebijakan pemimpin saat mendukung pengaplikasianTIK;
4) pendidikan serta pelatihan bagi para tenaga pendidikan;
5) hambatan-hambatan para tenaga pendidik dalam pengaplikasian TIK.
seluruh unsur yang terkait ini dijelaskan per pokok pembahasan dengan tujuan agar diperoleh kejelasan, dan pada akhirnya diharapkan agar dapat menguasai nya .
Ø Fasilitas, Sarana dan prasarana, dan segala perangkat pendukung TIK
Sekarang banyak sekolah yang sudah memiliki LAB komputer serta internet, sekolah-sekolah yang
berada di kota lebih lengkap fasilitas, dibandingkan dengan beberapa sekolah
yang berada di desa. Hampir di setiap kota dijumpai sekolah-sekolah yang
telah menyediakan fasilitas LAB komputer dan internet. Namun di pemanfaatan TIK oleh para tenaga pendidik di setiap sekolah tingkatannya sangat beragam, ada yang sederhana sampai ada yang sudah handal. situasi ini dapat dimengerti mengingat tingkat kemajuan sekolah
masing-masing berbeda. Contohnya seperti di SMP Palembang,
dimana fasilitas komputer dan internet telah ada dari tahun 2006 dan sudah
mengaplikasikan praktek TIK bagi guru dan siswa di situ, namun
pemanfaatan TIK bagi siswa masih sebatas pada mata pelajaran TIK, dan guru
belum mengaplikasikan TIK dalam proses belajar mengajar mata pelajaran yang lain. Tak sama dengan sekolah yang ada di Jakarta, SD di Menteng telah menggunakan TIK
dalam proses belajar Sains dan Matematika. Banyak kasus lain tentang keberagaman
tingkat pemakaian dan pemanfaatan TIK ini.
Dari data yang ditemukan suatu kondisi dimana ada hal ironis dibeberapa daerah tentang fasilitas TIK
ini
Kasus lainnya yang menarik adalah di dalam suatu daerah masih ada pihak-pihak yang saat menjalankan bisnisnya tidak proaktif terhadap kemajuan dalam pemanfaatan TIK di dunia pendidikan.
Seperti yang terjadi di Deli Serdang, di sana masih ditemui
perilaku tidak terpuji sifatnya yang dilakukan oleh para pedagang komputer, contohnya dengan menjual komputer dengan harga yang terlalu tinggi. Bayangkan ada penjual yang menjual komputer pentium
III dengan harga 5 juta rupiah lebih,selayaknya tidak akan lebih dari 2,5 juta. Bisa jadi
para penjual ini dalam berbisnis hanya memikirkan keuntungan belaka,
tanpa adanya rasa kepedulian atas kemajuan pemanfaatan TIK di daerah tersebut.
berhubungan dengan pengembangan sarana
dan prasarna untuk pemanfaatan Tik dalam dunia pendidikan dan kegiatan lain di
sekolah, ada juga sebuah departemen ya ng kurang dalam hal perhatian, seperti
yang di sampaikan oleh DH. Al Yusni anggota komisi VIII DPRRI yang melakukan
kunjungan di Sulawesi selalatan. Beliau mengatakan kini Depag diangga hanya
sigap menyikapi masalah haji, sementara menyangkut pengembangan madrasah tak di perhatikan , menurutnya ini sebagai tindakan diskriminatif.
Dicontohkan oleh beliau, di Sidrap Sulawesi Selatan, guru-guru madrasah
terkesan masih gagap menggunakan komputer, ini akibat minimnya perhatian dari
Depag, termasuk kesejahteraan para guru madrasah. Ditambahkan oleh Al Yusni,
Depag lebih perhatian pada masalah haji, daripada masalah pendidikan di bawah
naungannya, mungkin karena masalah haji lebih
banyak mengurusi uang saja .
Berbeda dengan Depdiknas, dimana departemen yang berkepentingan terhadap dunia pendidikan ini akan mengadakan perubahan yang berkaitan dengan pemanfaatan TIK tersebut dalam proses pembelajaran di sekolah. Depdiknas akan mengembangkan Jejaring Pendidikan Nasional. Contoh riil yang telah ada dalam hal ini adalah seperti sarana yang telah ditempatkan di Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samusir. Di sana jaringan internet selain dipakai untuk kebutuhan dinas, jaringan internet juga dibagi-bagi ke beberapa SMP, SMK, dan SMA lewat antena. Bandwidth dari Depdiknas internet ditempatkan di salah satu sekolah sebagai pengelola teknis, dan sekolah tersebut kemudian membaginya ke sekolah lain.
Berbeda dengan Depdiknas, dimana departemen yang berkepentingan terhadap dunia pendidikan ini akan mengadakan perubahan yang berkaitan dengan pemanfaatan TIK tersebut dalam proses pembelajaran di sekolah. Depdiknas akan mengembangkan Jejaring Pendidikan Nasional. Contoh riil yang telah ada dalam hal ini adalah seperti sarana yang telah ditempatkan di Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samusir. Di sana jaringan internet selain dipakai untuk kebutuhan dinas, jaringan internet juga dibagi-bagi ke beberapa SMP, SMK, dan SMA lewat antena. Bandwidth dari Depdiknas internet ditempatkan di salah satu sekolah sebagai pengelola teknis, dan sekolah tersebut kemudian membaginya ke sekolah lain.
Walaupun Depag ada yang mengatakan
kurang dalam memberikan perhatian dalam pengembangan sarana TIK di
madrasah-madrasah, tetapi di beberapa madrasah di Jawa Timur kondisi sekolah
yang telah tersedia sarana komputer dan internet dibilang telah lebih maju. Di
beberapa madrasah di Jatim diketahui bahwa jumlah package computer (PC) yang
dimiliki di masing-masing madrasah cukup banyak, jumlanya berkisar antara 10 hingga
20 unit.
Pada sekolah-sekolah yang telah
dibilang lebih maju, dan kebanyakan berlokasi di kawasan perkoataan, selain
tersedianya laboratorium komputer dan internet, beberapa sekolah telah
melenkapinya sarana lain yang berkaitan dengan proses pembeljaran, yaitu
berbagai media elektronik lainnya. Seperti pada kondisi di SMAN 11 Kota Jambi, perangkat untuk
pembelajaran kini juga lebih maju, telah tersedia perangkat modern seperti
proyektor LCD yang dilengkapi laptop, ada pengeras suara di masing-masing kelas
yang kesemuanya dikontrol oleh operator. Di sekolah ini pada setiap jam
istirahat diperdengarkan lagu-lagu lewat speaker, dengan cara ini kejenuhan
siswa setelah belajar bisa hilang.
Ketersediaan sarana TIK sangat
berpengaruh kepada guru dalam hal memilih varian sumber pembelajaran yang
dipilih. Seperti yang dikemukakan oleh Mohammad Juri, MPd. (Madura, 14 Januari
2008) yang mengatakan ketidak variativan guru dalam memilih sumber belajar,
diantaranya disebabkan oleh minimnya pengetahuaan dan kemampuan menggunakan
media pembelajaran yang maju seperti penggunaan komputer. Seperti alasan-alasan
yang umum disampaikan oleh para guru, misalnya tidak ada fasilitas komputer di sekolah,
fasilitas yang tidak lengkap dikarenakan tidak dana untuk pengadaan, dan
terlebih-lebih sikap guru yang kurang pro aktif dalam menghadapi kemajuan ICT.
Ø Penguasaan Pemakaian Dalam
Pemanfaatan TIK Bagi Guru
Dalam berbagai hasil penelitian dan
tulisan mensinyalir ada sekitar 70 s/d 90% guru dalam pemanfaatan kemajuan TIK
dalam proses pembelajaran dan kegiatan lain dianggap masih gagap teknologi.
Jika kondisi ini benar demikian, alangkah menyedihkan dan bahkan menyakitkan,
betapa tidak, sebab di tengah didengungkannya pembelajaran interaktif
(e-learning) yang juga harus melibatkan guru-gurunya dalam bidang studi apapun,
alangkah ironis kalau gurunya sendiri tidak pernah sedikitpun menjamah
teknologi informasi yang kini telah merambah kesemua sisi kehidupan manusia atau
dengan kata lain sudah mendunia.
Kondisi guru yang gagap TIK tidak
hanya didominasi oleh para guru di luar pulau Jawa, seperti yang ditemukan di
kasus Jawa Timur, di sana sebagian besar guru-guru yang mengajar di madrasah
sangat sedikit yang memanfaakan komputer apalagi internet. Pada umumnya guru
baru mampu menggunakan komputer hanya sebatas keperluan administrasi baik
kepentingan kantor maupun kepentingan penyusunan PAK (Penetapan Angka Kredit)
dalam kaitannya dengan kenaikan pangkat jabatan fungsional guru. Di Jatim
ebagian besar guru belum terbiasa menggunaan internet baik untuk proses
pembelajaran maupun kegiatan sosial lainnya.
PR IV UNNES Semarang, Prof. Fathur
Rohkman mengatakan sekitar 60 % guru SD, SMP dan SMA belum familiar dengan
komputer, terutama pendidika yang ada di pelosok dan pedesaan. Menurutnya dari
pelatihan guru yang pernah diselenggarakan di UNNES, masih banyak guru yang
belum tahu menggunakan mouse, padahal hampir semua kegiatan saat ini tidak bisa
lepas dari komputer termasuk di bidang pendidikan. Dalam kesempatan yang sama
Dr. Supriadi Rustad, PR I UNNES mengatakan, Indonesia baru sampai level
applying menuju transforming, karena ICT masih dijadikan sebagai mata pelajaran
dengan dimasukkannya ke dalam kurikulum sekolah. Masyarakat dikatakan pada
levev integrating bila ICT untuk proses pembelajaran, sementara level
transforming biada ICT untuk transformasi pendidikan.
Bagian yang sedikit dalam prosentase
yang sudah maju dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran memang telah
ada di kota-kota besar, seperti Jakarta,
Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan dan lainnya. Seperti yang ada pada salah satu di SD di Jakarta yaitu tepatnya
di SDN Menteng 3, dimana setiap hari Rabu, murid 4A mendapat jatah untuk
belajar di ruang laptop. Selama murid belajar dengan menggunakan laptop, proses
belajar menjadi sangat efektif, tidak perlu mencatat materi pelajaran dari
papan tulis, karena sudah tersistem pada laptop masing-masing. Murid tidak
bosan, dan merasa senang karena banyak gambar menarik khususnya pelajaran
sains. Setelah belajar Metematika dan IPA, boleh main game, buka internet dan
kirim email. Game di sini masih ada hubungannnya dengan pelajaran.
Menurut pengakuan adari salah satu
guru di SDN Menteng 3, Harry Pujianto mengaku mengajar dengan menggunakan
laptop sangat menantang, menimbulkan rasa ingin tahu, dapat membedakan
keberhasilan pembelajaran menggunakan laptop dibandingkan dengan pembelajaran
menggunakan cara konvesional. Murid lebih menyukai pelajaran Matematika dan
IPA. Kondisi ini sangat berlainan pada kondisi umumnya dimana siswa biasanya
merasa takut dan tidak pede terhadap mata pelajaran yang berbau eksakta, atau
pelajaran yang melibatkan hitung-menghitung, dan juga mata pelajaran yang
menggunakan praktek dalam laboratorium seperti pembelajaran sains.
Ø Kebijakan dan Upaya Pimpinan dalam
Mendukung Pemanfaatan TIK
Kadang sebuah penghargaan maupun
sertifikai bukan merupakan tujuan yang akan dicapai oleh sebuah lembaga
sekolahan, tetapi penghargaan maupun sertifikai yang diterima dapat menjadi
pendorong atau motivasi dalam pemanfaatan TIK oleh para guru, disamping sebagai
kebanggaan akan identitas sebuah sekolah yang mempunyai keunggulan dalam
berkompetitif dalam dunia pendidikan. Beberapa institusi atau lembaga baik
provit maupun nonprovit dirasa perlu memberikan berbagai penghargaan
stratafikasi untuk mendorong dan memacu sekolah untuk terus mengembangkan
potensinya, khususnya dalam hal pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran yang
melibatkan para guru yang terlibat langsung. Dilapangan ditemukan perusaan
bisnis BUMN telah memberikan berbagai sertifikai yaitu PT Telkom, seperti yang
terjadi pada sekolah yang telah berhasil dalam prestasi khusus, sekolah
tersebut telah mendapatkan sertifikai, seperti SMP Negeri 8 Palembang sebagai
sekolah bebas buta internet.
Peran pimpinan atau kepala sekolah
sangat penting dalam memajukan sekolah, khususnya penguasaan para guru dalam
pemanfaatan TIK. Pimpinan yang tidak sigap dalam adaptasi dengan perkembangan
teknologi dapat mengakibatkan kebijakan yang menjadikan guru gagap teknologi,
padahal ini bisa jadi mengakibatkan hilangnya daya tarik dalam proses belajar.
Terlebih dalam era informasi ini, tanpa adanya kemauan untuk mengerti,
menggunakan, dan mengakses bidang yang relevan dengan keilmuannya maka fungsi
guru sebagai fasilitator perkembangan ilmu akan tereduksi yang lama-lama bisa
jadi hilang, sehingga yang ada hanyalah guru yang miskin informasi.
Para kepala sekolah yang mempunyai
komitmen terhadap kemajuan sekolahnya pasti melakukan langkah-langkah konkrit
dalam memajukan guru dalam pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Di
sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan lebih mudah dikembangkan
daripada di pedesaan yang saran dan prasaranya kadang belum lengkap atau
tersedia. Di SMAN 11 Kota Jambi misalnya,
kepala sekolah dalam menerapkan dan menyambut serbuan beragam teknologi
informasi, adalah dengan membekali para guru dengan kursus komputer dan
internet, tidak hanya guru yang mengajar di labaratorium komputer saja yang
harus mengerti perangakat tersebut, tetapi guru-guru bidang lain harus
mengikuti. Kondisi ini diyakini berlaku pada sekolah-sekolah lain di tanah air
ini.
Beberapa sekolah sebenarnya telah
proaktif dalam menyiapkan sarana, dengan kebijakan tertentu, sekolah dapat
meluncurkan program maupun memulai aksi nyata. Seperti kini beberapa sekolah di
kota Solo, mulai dan telah melaunching sarana laboratorium komputer multimedia untuk menyongsong era TIK
dalam pendidikan dan telah menyiapan guru-gurunya dalam penggunaan atau
pemanfaatannya pada pembelajaran, dan
pada akhirnya akan menentukan program ini akan berjalan baik atau tidak.
Gebrakan kebijakan tidak cukup hanya
pada tingkat dinas pendidikan, tetapi para kepala daerah baik itu gubernur
ataupun bupati atau walikota harus mau dan sanggup mengeluarkan kebijakan yang
signifikan dalam mamajukan dunia pendidikan khususnya dalam pemanfaatan TIK
ini. Seperti pada pemda Tanah Datar, Sumbar, telah meluncurukan programnya yaitu
untuk melengkapi fasilitas komputer di sekolah-sekolah, maka dilaksanakan
program One School One Computer Laboratorium (OSOL) satu sekolah satu
laboratorium komputer. Melalui progam ini diharapkan guru maupun siswa tidak
gagap teknologi, khususnya dalam penguasaan ketrampilan komputer sebagai ciri
kemajuan suatu masyarakat.
Kebijakan pemerintah juga dipertegas
oleh Menko kesra, beliau mengatakan bahwa pemerintah pada tahuan ini akan mengalokasikan dana dari APBN sebesar 2
triliun untuk program satu komputer bagi 20 siswa di tingkat SMP dan SMA di
seluruh Indonesia. Menurutnya sampai saat ini untuk murid SMA baru 1 banding
1000, ini belum komputer yang dapat dimanfaatkan oleh para guru.
Ø Pendidikan, Pelatihan, Praktek Pemanfaatan TIK
Kebutuhan akan kemampuan para guru
dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran telah direspon sangat positi
oleh beberapa sekolah. Kenyataan dilapangan ditemukan bahwa beberapa sekolah
telah memberikan pelatihan dan atau mengirikan para guru mengikuti pelatihan
komputer dan internet. Ini dilakukan oleh pimpinan sekolah dengan maksud agar
para guru tidak gagap terhadap pemakaian komputer dalam pemanfaatan TIK.
Seperti yang telah terjadi dan dilakukan oleh SMP Negeri 8 Palembang, tidak
hanya guru pemegang mata pelajaran TIK yang dikirim mengikuti pendidikan
pemanfaatan TIK, tetapi semua guru mata pelajaran juga dikirim untuk mengikuti
pendidikan maupun pelatihan atau kursus.
Walaupun fasilitas internet sudah
ada, guru-guru telah dikirim untuk mengikuti pelatihan dan kursus komputer dan
internet, namun dilapangan ditemukan adanya kendala. Misalnya saja di beberapa
sekolah di Kabupaten Toba Samosir, guru
tidak dapat mengoptimalkan pemakaiannya, mengingat tidak adanya staf TI khusus
yang ahli, sehingga berbagai kelemahan dalam penggunaan sarana TI oleh guru
tidak ada sumber untuk bertanya. Ada kasus yang dirasa lucu, dimana guru
menyuruh siswa ke warnet untuk belajar email, dan setelah siswa tersebut dapat
menggunakannya, guru belajar pada muridnya.
Peran lembaga atau institusi diluar
sekolah juga sangat diperlukan dalam andilnya dalam memajukan dunia pendikan
dasar dan menengah. Mereka yang peduli telah turut aktif memberikan kemampuan
para guru dalam menggunakan komputer maupun internet, Tidak ketinggalan apa
yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Merauke Papua, daerah paling timur wilayah
Indoneisa ini telah mengadakan petihan komputer bagi guru-guru dan PNS walaupun
materi masih dalam taraf tingakat dasar.
Materi yang disajikan adalah mengenai aplikasi perkantorlan (word, excel,
powerpoint, dan internet). Ini menunjukkan bahwa sebenarnya greget dari
berbagai penentuk kebijakan di daerah dalam memajukan pendidikan dengan cara
memajukan guru dalam kemampuan pemanfaatanTIK cukup baik.
Tidak hanya pelatihan praktis dan
teknis dalam menndorong guru mau memanfaakan TIK yang ada dalam pembelajaran,
tetapi kegiatan yang sifatnya mendorong dan memotivasi guru juga perlu diadakan
secara terus menerus. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jatim misalnya,
lembaga ini telah mengadakan workshop Penelitian Tindakan Kelas bagi 150 guru
di kabupaten Pasuruan, Jatim. Workshop ini dimaksudkan agar semangat para guru
untuk menulis dan membaca lebih terpacu, semangat itulah yang akan otomatis
mendorong guru bersinggungan dengan pemanfaatan TI, tukasnya.
Peran perguruan tinggi sebagai
gudangnya para pakar dan ahli sudah selayaknya peduli atas usaha kemajua
diinginkan oleh para guru. Seperti yang dilakukan UNILA Lampung, Drs. Rudi
Ruswandi, Msi, Ketua Jurusan Matematika UNILA, Lampung menyatakan, institusinya
telah menyelenggarkan pelatihan jejaring pendidikan nasional (jardiknas) se
kota Bandar Lampung yang diikuti oleh 78 kepala sekolah. Para peserta
diharapkan dapat mengambil manfaat dan kedepannya dapat melaksanakan program
sekolah yang sinergis dengan jardiknas, juga dimaksudkan agar para guru dan
kepala sekolah jangan sampai gagap teknologi dan tidak mampu memanfaatkan TIK.
Ø Kendala Guru Dalam Penggunaan dan
Pemanfaatan TIK
Beberapa kendala yang dihadapi guru
dalam pemanfaatan TIK adalah adanya kendala internal, seperti kesibukan jam
mengajar di berbagai tempat, maupun kendala eksternal seperti ketersediaan
akses internet dan waktu pelatihan sendiri.
Kendala internal dan eksternal
tersebut sebenarnya hanyalah sebuah ”pembenaran” untuk tidak melakukan hal-hal
yang dibutuhkan. Artinya, berpatokan pada peribahasa ”dimana ada kemauan disitu
ada jalan” kita memang harus mempersiapkan diri menyongsong era baru dalam
berkomunikasi dengan berbagai informasi yang ada.
Menurut Bona Simanjuntak, Aktivis
Jaringan Informasi Sekolah (JIS), di salah satu kecataman di Deli Serdang,
internet dan komputer menjadi barang yang terlalu mahal dan langka. Ia dan
rekannya telah menggelar training on trainers (TOT) bagi guru-guru di kawasan
sekolah kejuruan (SMK), dimana rasio komputer dengan siswa di daerah tersebut
mencapai 1:100, artinya satu komputer untuk melayani kebutuhan 100 guru.
Ada guru-guru di Deli Serdang
terpaksa mengajar komputer dengan imajinasi dan penjelasan verbal saja, kendala
ini disebabkan oleh tidak adanya fasilitas komputer sungguhan untuk digunakan
siswa, padahal belajar komputer lebih efektif melalui praktek.
Menurut Drs. Isjoni Ishaq, dekan
FKIP UNRI Riau, kendala para guru dalam penggunaan komputer dan TIK adalah
ketidakmampuan guru dalam berbahasa inggris, dimana bahasa inggris sangat
dominan dipakai dalam pengoperasional komputer dan TIK. Hal ini ditekankan
mengingat guru punya andil besar dalam mencerdaskan anak bangsa.
Beberapa siswa di Surabaya mengaku
merasa lebih lihai (pandai) dalam hal penggunaan telepon seluler, ini terbukti
dalam berbagai rasia yang dilakukan oleh sekolah terhadap gambar porno maupun
video porno yang ada di ponsel siswa, ternyata banyak yang lolos, tak
terdeteksi, mengingat guru banyak yang tidak pengalaman dalam hal pemakaian
ponsel yang canggih daripada siswanya. Mungkin ini disebabkan oleh daya beli
guru terhadap model HP lebih rendah dari pada orang tua siswa dalam beberapa
kasus. Ini sebenarnya kendala yang yang tidak kentara bagi guru dalam hal
pemanfaatan TIK kaitannya dengan penggunaan ponsel oleh siswa.
Menurt Doni B.U., Msi., kini telah
ada kesenjangan digital sebagai isu science fiction semata yang diciptkan oleh
sekelompok ekslusif manusia pemuja teknologi informasi, atau ada menyebut
sebagai digital divide. Menurutnya kesenjangan digital akhirnya hanya dipahami
sebagai gap antara pemilik/ pengguna teknologi (the haves) dan mereka yang tidak
memiliki atau mengunakan teknologi. Kaum the have diyakini sebagai pihak
pertama yang mengada-ada adanya istilah kesenjangan teknologi yang
mengkontraskan kelompok kedua. Hal ini bisa menimbulkan rasa pesimistik bagi
para guru dalam penggunaan dan pemanfaatan TIK.
Masih ada guru yang beranggapan
tidak menggunakan komputer dan TIK dalam proses pembelajaran bukan hal mengganggu
jalannnya pelajaran, karena guru merasa tidak mendapatkan fasilitas komputer
saat mengajar, jadi inilah yang membuat mereka merasa tidak perlu untuk tahu
cara menggunakan komputer. Kasus ini terjadi pada guru-guru yang sudah berusia
tua, walaupun yang guru yang yunior pun masih ada yang gagap pada kemanjuan
TIK.
Menurut Machfud dari Lembaga
Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (20 April 2008), dilema yang muncul di
lapangan, dari berbagai upaya yang telah dilaksanakan untuk membantu para guru
mengenala TIK, terganjal di tengah jalan, penyebabnya adalah; 1) takut akan
kesalahan yang diperbuat, sehingga dapat mengakibatkan kerusakan media; 2)
merasa usianya sudah tua, sehingga kurang bermanfaat bagi dirinya; 3) kurang
memahami bahasa teknik TI (bahasa inggris); 4) banyaknya rutinitas di luar
pelajaran TIK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar